Senin, 06 Januari 2014

Tugas Proposal Penelitian Bahasa Indonesia


JUDUL    : PENGARUH LAMA LAMPU MATI PADA MESIN TETAS TERHADAP   DAYA TETAS AYAM POTONG LOKAL

I. PENDAHULUAN
            Dewasa ini teknologi penetasan telah sanggup menciptakan alat penetas buatan yang dikenal dengan mesin penetas telur (incubator), yang sepenuhnya dapat meniru tingkah laku induk ayam selama priode mengeram. Mesin penetas dibuat sebagai pengganti penetasan secara alami (natural incubator), untuk memperoleh sejumlah anak yang berkualitas tinggi dalam waktu bersamaan. Jenis mesin tetas dibuat secara beragam, mulai dari mesin yang paling canggih sampai pada mesin yang paling sederhana (tradisional). Keberhasilan mesin tetas sangat ditentukan oleh kestabilan temperature dalam mesin tetas. Dalam penggunaan mesin tetas skala kecil untuk penetasan ayam kampung masih dihadapkan pada masalah rendahnya daya tetas dikarenakan salah satu kendala yaitu matinya listrik (PLN OFF) ketika proses penetasan dilakukan.
Rasyraf (1995) menyatakan bahwa suhu yang ideal penetasan adalah antara 38,30C - 40,50C. Sedangkan kelembaban di dalam mesin tetas antara 60%-70%. Listiyowati dan roospitasari (2003) menyatakan, sumber pemanas yang terlalu lama mati mengakibatkan sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi, sehingga benih dalam telur mati dan dapat mempengaruhi daya tetas telur yang ditetaskan. Anonimous (2005) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (900F) untuk waktu tiga sampai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio di dalam telur. Kelembapan yang terlalu tinggi akan menyebabkan anak ayam dalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur, walaupun dapat dipecahkan anak ayam tetap berada dalam telur dan dapat mati dalam cairan telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur.
Hasil penelitian Siahaan (2006) membuktikan semakin lama lampu mati daya tetas puyuh semakin menurun. Anonimous (2009) menyatakan Induk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas telur tetas sehingga dapat menetas dengan baik. Jenis yang berbeda akan memiliki daya tetas yang berbeda. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh lampu mati terhadap daya tetas ayam potong local (APL).
1.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama lampu mati pada mesin tetas terhadap daya tetas telur Ayam Potong Lokal.

1.2 Hipotesis
            Semakin lama lampu mati pada mesin tetas akan menurunkan daya tetas telur Ayam Potong Lokal.


II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Potong Lokal (APL)
Ayam Potong Lokal (APL) atau sering disebut dengan ayam hibrida lokal adalah ayam hasil persilangan antara pejantan ayam kampung dengan ayam ras petelur betina (Muryanto dkk, 2004). Ayam ini diproduksi sebagai ayam potong (lokal), dimaksudkan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang tinggi akan daging unggas khususnya daging ayam kampung. Produk ayam kampung baik berupa telur dan daging sangat disukai oleh masyarakat, namun ayam kampung sendiri tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar, karena laju reproduksi dan pertumbuhannya lambat.
Hasil persilangan antara pejantan kampung dengan betina ras petelur pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ayam kampong, selain itu tubuh dan karkasnya mirip ayam kampung serta tekstur daging sama dengan ayam kampung(Prawirodigdo, S., D dkk, 2001). Masakan dari ayam hasil persilangan baik dalam bentuk segar maupun beku ternyata mempunyai kualitas yang sama dengan masakan ayam kampung (Muryanto dkk 2002).

2.2 Penetasan Telur dengan Mesin Tetas
2.2.1 Mesin Tetas
            Tujuan penetasan dengan mesin tetas adalah untuk menetaskan telur tetas dalam jumlah banyak pada waktu yang sama sesuai dengan waktu dan rencana yang dikehendaki (Rasyraf, 1987).
            Pada dasarnya penetasan dapat dilakukan secara alami ( dengan induk unggas sendiri) dan secara buatan (dengan alat penetas pengganti induk). Penetasan secara alami untuk memperbanyak populasi telah dilakukan sejak adanya pemeliharaan unggas. Alat penetasan buatan dikenal dengan mesin tetas (Farry, 2001)

2.2.2 Suhu dan Kelembapan
            Suhu yang sesuai untuk penetasan telur ayam didalam mesin tetas diatur dengan kaidah-kaiadah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0C) pada hari pertama hingga hari ke-15 dan pada hari 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F) dan kelembapan yaitu 60% pada hari pertama sampai hari ke-15 dan pada pada hari ke 16 hingga menetas dinaikkan menjadi  70%. Pengaturan suhu dan kelembapan didalam incubator dilakukan satu hari sebelum telur dimasukkan (Mayun dan Nugroho, 1981).
            Suhu yang diukur dengan thermometer ini memegang peranan yang sangat penting dalam penetasan telur karena hal ini berhubungan dengan faktor perkembangan embrio di dalam telur.suhu yang sedikit lebih rendah untuk priode yang tidak terlau lama tidak mempengaruhi dalam embrio kecuali memperlambat perkembangannya untuk embrio muda. Hal yang sediit berbeda jika terjadi pada embrio yang lebih tua karena pengaruhnya akan sedikit lebih berkurang. Jika suhu terlalu rendah dari kaidah penetsan telur ayam maka akan mempengaruhi embrio dalam hal perkembangan oragan-organnya yang berkembang tidak secara proporsional (Anonimous, 2009). Wiharto (1988) menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Anonymous (2009) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (90 0F) untuk waktu tiga sampai empat jam akan memperlambat perkembangan embrio pada ayam didalam telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan.
            Kelembapan udara (humidity) juga penting dalam proses pemetasan karena hal ini menjaga telur dari kehilangan terlalu banyak atau terlalu sedikit kelembabannya selama proses penetasa telur. Kelembaban udara yang diukur dengan hygrometer ini harus dijaga karena ketidakakuratan dalam penerapan kelembaban udara dapat dipengaruhi secara signifikan keberhasilan penetasan telur (anonimous, 2009).
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonymous (2009) menyatakan, kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur dan kalaupun dapat dipecahkan, anak ayam tetap berada di dalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan telur itu sendiri.

2.2.3 Pemutaran Telur
            Imanah dan Maryam (1992)  menyatakan, pemutaran telur dilakukan secara mendatar yaitu bagian ujung yang tumpul selalu berada diatas. Tidak dilakukannya pemutaran dapat menyebabkan anan-anak ayam menetas dengan kaki pengkor.
            Listiyowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, pemutaran telur puyuh dilakukan sebanyak dua kali sejak hari ke tiga hingga hari ke-13. Widyarti (1998) menyatakan bahwa, pemutaran telur itik dilakukan paling sedikit tiga atau sampai empat kali sehari semalam. Menurut Anonimous (2009), pemutaran telur ayam minimal tiga sampai lima kali sehari dengan waktu pemutaran dapat ditentukan sendiri. Pemutaran telur yang tidak sempurna juga menyebabkan telur tidak menetas sebab keterlambatan memutar mengakibatkan benih/embrio menempel atau lengket pada satu sisi kulit akibat daya tarik bumi dan mati (Sudaryani dan santoso,1994)



2.3 Fertiltas Telur
Fertilitas merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam usaha penetasan karena hanya telur yang fertile yang dapat menghasilkan DOC. Fertilitas adalah persentase dari telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan. Untuk mengetahui fertile atau tidaknya telur, dilakukan peneropongan  (Setiadi, 1995).
            Card et al (1961) disitasi Brata (1989) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan fertilitas adalah persentase telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio, tanpa memperhatikan apakah telur-telur tersebut menetas atau tidak dari sejumlah telur yang dieramkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa dengan mengetahui fertilitas maka dapat dibedakan telur-telur yang bertunas atau tidak. Kedaan ini menguntungkan pembibit, tetapi fertilitas justru tidak dapat ditentukan dulu sebelum telur-telur ditetaskan. Ditambahkan juga bahwa fertilitas yang tinggi diperlikan untuk menghasilkan dan meningkatkan daya tetas.
            Fertilitas dipengaruhi jumlah jantan dan betina dalam satu kandang. Perbandingan jantan dan betina yang makin kecil akan menurunkan fertilitas. Fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam satu kandang terdapat jantan dan betina dengan perbandingan 1:3 (Rasyaf, 1994). Listiyowati dan Roospitasari (1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu kandang, maka pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu sering dikawini. Selain itu, pejantan-pejantan ini akan menghabiskan banyak pakan.sdangkan bila jumlah betina terlalu banyak, banyak telur yang tidak terbuahi atau infertil sehingga tidak bisa digunakan sebagai telur tetas.

2.4 Berat Telur
            Menurut rasyraf (1984) seleksi telur telur tetas lebih dulu diutamakan pada berat telur karena akan mempengaruhi berat awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilakan juga akan semakin berat.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan bahwa berat telur sangat berpengaruh pada persentase daya tetas telur, telur  yang besar akan menghasilkan DOC anak ayam umur sehari relative lebih berat, pertumbuhan bulunya lebih cepat dan kematian lebih rendah.

2.5 Parameter Keberhasilan Penetasan
2.5.1 Daya Tetas
            Daya tetas dihitung dengan membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah seluruh telur yang fertil. Semakin tinggi jumlah telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan akan dihasilkan persentase daya tetas yang tinggi pula. Menurut North (1980), fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan daya tetas yang tinggi.salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas telur ialah rasio seks pejantan dan induk betina.
Rumus daya tetas telur adalah sebagai berikut:
Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
            Rendahnya daya tetas bukan hanya disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan, tetapi tehnik penetasan sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan dalam usaha penetasan. Hal ini dapat terjadi ketika proses penetasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi karena matinya listrik. Listiowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, jika sumber panas ini terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur. Anonimous (2009) menyatakan, temperature yang terlalu rendah dapat menghambat perkembangan embrio, pada suhu penetasan 90 0F (32 0C) untuk waktu tiga samapai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio ayam di dalam telur.

2.5.2 Bobot Tetas
            Bobot tetas adalah bobot DOC setelah menatas yang bulu badannya telah kering dan sebelum diberi makan atau minum untuk pertama kalinya. Kaharudin (1989) Menyatakan bahwa, salah satu faktor yang mempengaruhi bobot tetas yaitu bobot telur tetas. Sudaryani dan santoso (1994) menyatakan, bobot telur tetas merupakan faktor utama yang mempengaruhi bobot tetas, selanjutnya dikatakan bobot tetas yang normal adalah dua per tiga dari bobot telur dan apabila bobot tetas kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bias dkatakan belum berhasil.
            Menurut Rasyraf (1984), seleksi telur tetas lebih dulu diutamakan pada bobot telur karena alan mempengaruhi bobot awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilkan juga semakin berat.


2.5.3 Waktu menetas
            Ukuran telur tetas dapat mempengaruhi waktu menetas. Roospitasari dan listiyowati (2003) menyatakan bahwa, telur yang kecil akan menetas lebih cepat dibandingkan telur yang besar, karena telur yang besar dan yang kecil mempunyai luas permukaan yang berbeda sehingga daya serap panasnya pun akan berbeda.
            Suhu dan kelembapan mesin juga mempengaruhi lamanya waktu menetas telur. Suhu yang sesuai untuk penetasan telur puyuh dalam mesin tetas diatur sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101F) pada hari pertama sampai hari ke-15 dan hari ke-16 hingga menetas yaitu 39 0C (102 0F) dan kelembapan 60% mulai dari hari pertama hngga hari ke-15 dan 70% pada hari ke-16 hingga telur ayam menetas.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu dibawah normal maka telu akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu dalam mesin tetas diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Sedangkan kelembapan terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonimous (2005) menyatakan bahwa, kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam dalam telur akan sulit memecahkan kulit telur.

2.5.4 Kematian Embrio (mortalitas embrio)
            Menurut Manyun dan Nugroho (1981), kematian embrio banyak terjadi dalam keadaan kritis selama waktu penetasan. Ada dua fase kritis embrio dalam penetasan, yaitu pada tiga hari pertama masa penetasan dan tiga hari sebelum menetas. Mortalitas embrio dapat ditentukan pada hir penetasan denan pemecahan telur yang tidak menetas. Hal ini dapat diketahui dari tidak menetasnya telur pada ahir penetasan.
            Hasil tetasan yang normal dari sebuah mesin tetas adalah 75% sampai 85%. Bila ahasilnya kurang dari hasil tersebut, kemungkinan disebabkan selama priode penetasan terjadi perubahan temperature yang besar (Mayun dan Nugroho, 1981). Hal ini dapat terjadi ketika proses penatasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi dikarenakan matinya listrik. Rospitasari dan Listiowati (2003) menyatakan, jika sumber pemanas terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur.

III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
            Penelitian dilaksanakan pada tanggal………. Sampai ……….2011, di Kota Bengkulu.

3.2 Alat dan bahan
            Penelitian menggunakan 360 butir telur ayam kampung yang didapat dari satu peternak ayam kampung sebagai materi penelitian. Telur tersebut ditetaskan dalam 4 unit mesin tetas (incubator) yang terbuat dari tripleks dengan sumber panas yang digunakan adalah lampu listrik (5 watt) sebanyak 6 buah per mesin tetas, timbangan analitik O-Hous dengan kapasitas 300 gram, air hangat, kapas, alcohol 70%, generator dan peralatan lain yang mendukung.



3.3 Variabel yang diamati
-          Rataan persentase daya tetas, dihitung dengan rumus;

Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
-          Rataan bobot tetas, adalah bobot DOC yang ditimbang saat baru menetas dan bulunya sudah kering, yaitu saat DOC sekitar 10 jam.
-          Rataan persentase kematian embrio dihitung dengan rumus

Jumlah telur yang mati
                                                                                                x 100%
Jumlah telur yang fertile
-          Rataan waktu menetas dihitung berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu DOC keluar dari cangkang telur.
-          Suhu dan kelembadan diukur setiap hari pada ahir perlakuan pemadaman lampu.

3.4 Tahapan Penelitian
3.4.1 Tahap persiapan
•         Mengumpulkan telur yang akan ditetaskan 4 hari sebelum penetasan dilaksanakan.
•         Mensanitasi mesin tetas dan mengatur suhu (38,3 0C) dan kelembapan mesin tetas (60%) (Mayun dan Nugroho, 1981).
•         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi air hangat kuku.
•         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi alcohol 70%.
•         Menimbang telur yang akan ditetaskan di dalam mesin tetas.

3.4.2 Tahap Pelaksanaan
•         Memasukkan telur yang akan ditetaskan kedalam mesin tetas.
•         Mengatur suhu kelembapan mesin tetas sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0F) pada hari pertama hingga hari ke 15 dan hari ke 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F), kelembapan diatur 60% pada hari pertama hingga ke-15 sampai 70% pada hari ke 16 sampai menetas.
•         Memutar telur sebanyak 2 kali per hari yaitu pada hari (pukul 07.00WIB) dan sore hari (pukul 18.00 WIB), mulai hari kelima penetasan hingga hari ke-15 (listiyowati dan roospitasari,2003)
•         Melakukan perlakuan pemadaman lampu mesin tetas mulai hari ke-5 dan hingga hari ke 15. Masa perlakuan ditentukan untuk menghindari pengaruh masa kritis pertama dan kedua.
•         Mengamati suhu dan kelembapan setiap hari saat ahir perlakuan pemadaman lampu.
•         Menghitung jumlah telur yang menetas dan mati (dalam telur dan saat piping) dari sejumlah telur yang fertile untuk mendapatkan daya tetas dan kematian embrio.
•         Menghitung waktu menetas berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu anak ayam keluar dari cangkang telur.
•         Menimbang setiap anak ayam saat baru menetas dan bunya sudah kering atau saat umur DOC sekitar 10 jam setelah menetas.




3.5 Analisis Data
            Penelitian  terdiri 4 perlakuan pemadaman lampu dan setiap perlakuan terdiri 3 ulangan, setiap ulangan terdiri 30 butir telur sehingga setiap perlakuan terdiri 90 butir telur. Perlakuan lama pemadaman lampu sebagai berikut :
            P1: Lampu mati selama 0 jam/hari
            P2: Lampu mati selama 2 jam/hari (09.00-11.00)
            P3: Lampu mati selama 3 jam/hari (09.00-13.00)
            P4: Lampu mati selama 4 jam/hari (09.00-15.00)

Tabel skema mesin tetas
Data daya tetas, kematian embrio, bobot tetas dan waktu menetas yang diperoleh diuji secara statistik dengan rancangan acak lengkap (RAL). Bila hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan nyata, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT), untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Data suhu dan kelembapan dianalisis secara deskriptif.






DAFTAR PUSTAKA

Anonimous . 2009. Induk Menentukan Daya tetas. http://Aspan-gabe.com/persiapan
Anonimous. 2005. Tips Penetasan Dan Setelah Penetasan. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm.
Brata, B. 1989. Pengaruh frekwensi selama penyimpanan telur tetas puyuh (Coturnix-coturnix Japonica) terhadap daya tetas. Laporan penelitian. Universita Bengkulu.
Farry. 2001. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Imanah dan maryam. 1992. Mesin Tetas dan System Pemeliharaan Ayam. C.V. Bahagia Pekalongan.
Kaharudin, D. 1989. Pengaruh bobot telur tetas terhadap boot tetas, daya tetas, pertambahan berat badan dan angka kematian sampai umur 4 minggu pada puyuh telur (Coturnik-coturnik japonica). Laporan penelitian. Universitas Bengkulu.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 1995. Puyuh, tata laksana budidaya secara komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 2003. Tata laksana budidaya puyuh secara komersil. Penebar swadaya. Jakarta.
Rasyraf, M. 1984. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
Rasyraf, M. 1995. Beternak Ayam Kampong. Karya Anda. Surabaya.
Rasyraf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius. Yogyakarta.
Setiadi, P. 1995. Perbandingan berbagai metode penetasan telur ayam kedu hitam daerah pengembangan Kalimantan Selatan. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.
Siahaan, J. 2006. Pengaruh Lama Lapu Mati Pada Mesin Tetas Terhadap Daya Tetas Telur (cotumix-cotumix japonica). Skripsi Program Studi Produksi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu
Sudaryani, T.H, dan Santoso. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muryanto, T.Paryono, Ernawati, P.S. Hardjosworo, H. Setijanto dan L.S. Graha. 2004. Prospek Ayam Hasil Persilangan Ayam Kampung Dengan Ras Petelur Sebagai Sumber Daging Unggas Yang Mirip Ayam Kampung. Seminar Teknologi Pangan Hewani. UNDIP Semarang.
Nugroho dan I. Mayun. 1981. Beternak burung puyuh. Eka Offset. Semarang.
Prawirodigdo, S., D. Pramono, Ernawati, B. Budiharto, P. Lestari, Sugiono, G. Sejati, Prawoto, S. Iskandar dan D. Zaenudin. 2001. Pengkajian Partisipatif Persilangan Ayam Pelung x Ayam Ras Petelur dan Ayam Lokal. Laporan Hasil Pengkajian. BPTP Jawa Tengah.
Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Unive

Sumber : http://putramardena.blogspot.com/2011/11/proposal-penelitian-penetasan.html

Sabtu, 19 Oktober 2013

PARAGRAF

PARAGRAF DALAM BAHASA INDONESIA

PENGERTIAN PARAGRAF
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satupun dari kalimat-kalimat itu yang memperkatakan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu.
Contoh sebuah paragraf. 

Pemanasan global selamanya selalu dipermasalakan. Berkali-kali masalah tersebut diseminarkan dan berkali-kali pula jadi pemecahannya dirancang. Namun, keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki tetap menjadikan pemanasan global sebagai masalah yang pelik. Pada waktu seminar-seminar itu berlangsung, pemanasan global terus terjadi. Hal ini mengundang keprihatinan kita karena masalah pemanasan global banyak sedikitnya mempunyai kaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Selama pencegahan, pengendalian dan pelaksanaan anti pemanasan global belum dapat dilaksakan dengan baik, selama itu pila pemasan global menjadi masalah.

Paragraf ini terdiri atas enam kalimat. Semua kalimat itu membicarakan pemanasan global. Oleh sebab itu, paragraf itu mempunyai topik “ masalah sampah” karena pokok permasalahan dalam paragraf itu adalah masalah pemanasan global .
Topik paragraf adalah pikran utama didalam sebuah paragraph. Semua pembicaraan dalam paragraf itu terpusat pada pikiran utama ini.. Apa yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah paragraf, itulah topik paragraf. Topik paragraf dijabarkan dalam kalimat topik atau kalimar utama. 

SYARAT-SYARAT PARAGRAF
Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf .
a. Kesatuan paragraf

Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu. Kalau ada kalimat yang menyimpang dari ide pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak berpautan, tidak utuh. Kalimat yang menyimpang itu harus dikeluarkan dari paragraf.
Aktualisasi yang berasal dari kata aktual, yang berarti betul-betul ada,terjadi atau sesungguhnya. Aktualisasi Pancasila adalah bagaimana nilai-nilai pencasila benar-benar dapat tercemin dalam sikap dan perilaku seluruh warga Negara, mulai dari aparatur dan pimpinan nasional sampai kepada rakyat biasa. Pancasila sangat perlu diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat ,berbangsa dan bernegara. Globalisasi banyak pengaruh positif dan negatif bagi segala aspek kehidupan suatu Negara. Dan hanya kekuatan dari pelaksanaan suatu landasan negaralah yang dapat menangkal segala dampak dari globalisasi maka pancasila dapat diamalkan.

Dalam paragraf di atas kalimat keempat tidak menunjukkan keutuhan paragraf karena merupakan kalimat yang sumbang atau keluar dari permasalahan yang dibicarakan. Oleh sebab itu, kalimat tersebut harus dikeluarkan dari paragraf.
b. Kepaduan Paragraf
Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyusunan kalimat yang logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antarkalimat.
Pengait Paragraf
Agar paragraf menjadi padu digunakan pengait paragraf, yaitu berupa 1) ungkapan penghubung transisi, 2) kata ganti atau 3) kata kunci (pengulangan kata yang dipentingkan).
  • Kata Transisi
Ungkapan pengait antarkalimat dapat berupa ungkapan hubungan / transisi.
Beberapa kata transisi
  1. Hubungan tambahan
contoh : lebih lagi, selanjutnya, tambahan pula, berikutnya, lagipula.
  1. Hubungan pertentangan
contoh : akantetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, dll.
  1. Hubungan perbandingan
contoh : sama dengan itu, dalam hal yang demikian, sehubungan dengan itu.
  1. Hubungan akibat
contoh : oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh karena itu, maka, oleh sebab itu.
  1. Hubungan tujuan
contoh : untuk itu, untuk maksud itu.
  1. Hubungan singkatan
contoh : singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada umumnya, dengan kata lain.
  1. Hubungan waktu
contoh : sementara itu, segera setelah itu, beberapa saat kemudian.
  1. Hubungan tempat
contoh : berdekatan dengan itu

Paragraf di bawah ini memperlihatkan pemakaian ungkapan pengait antarkalimat yang berupa ungkapan penghubung transisi.
Mengingat bangsa Indonesia yang sangat heterogen, kiranya dapat difahami bahwa di dalam kehidupan politik itu sering terjadi perbedaan persepsi, perbedaan skala prioritas, bahkan konflik kepentingan kelompok atau golongan. Namun, yang harus selalu diingat ,bahwa didalam proses penentuan kebijakan maupun pelaksanaan kebijakan itu terdapat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar, yaitu kepentingan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa, serta tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berdasarkan filsafat pancasila.

Dengan dipasangkannya pengait antarkalimat bahkan dan namun dalam paragraf tersebut, kepaduan paragraf terasa sekali, serta urutan kalimat-kalimat dalam paragraf itu logis dan kompak.
  • Kata Ganti
Ungkapan pengait paragraf dapat juga berupa kata ganti orang maupun kata yang lain.
Kata Ganti Orang
Dalam usaha memadu kalimat-kalimat dalam suatu paragraf, kita banyak menggunakan kata ganti orang. Pemakaian kata ganti ini berguna untuk menghindari penyebutan nama orang berkali-kali. Kata ganti yang dimaksud adalah saya, aku, ku, kita, kami (kata ganti orang pertama), engkau, kau, kamu, mu, kamu sekalian (kata ganti oaring kedua), dia, ia, beliau, mereka, dan nya (kata ganti orang ketiga). Hal ini dapat kita lihat pada contoh paragraf berikut ini.
Ringgar dan Trisna adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka telah menjalin hubungan itu selama tiga tahun hingga kini.Mereka berkomitmen bahwa hubungan tersebut jangan sampai berhenti di tengah jalan. Prinsip yang dimiliki oleh diri masing-masing cukup mendukung komitmen tersebut. Saya yakin mereka bisa menjalaninya.
Kata mereka dipakai sebagai pengganti kata Ringgardan Trisna agar nama orang tidak disebutkan berkali-kali. Penyebutan nama orang yang berkali-kali akan menimbulkan kebosanan serta menghilangkan keutuhan paragraf. 
Kata Ganti yang Lain
Kata ganti lain yang digunakan dalam menciptakan kepaduan paragraf ialah itu, ini, tadi, begitu, demikian, di situ, ke situ, di atas, di sana, di sini dan sebagainya.Perhatikan contoh berikut:
Itu rumah mereka. Mereka tinggal di situ sejak pertama kali menikah sampai memiliki dua orang putri. Orang tua mereka juga sering berkunjung ke situ
Kata Kunci
Di samping itu, ungkapan pengait dapat pula berupa pengulangan kata-kata kunci, seperti kata pemanasan global pada contoh paragraf yang pertama. Pengulangan kata-kata kunci ini perlu dilakukan dengan hati-hati ( tidak terlalu sering ). 
PENGEMBANGAN PARAGRAF
Mengarang adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik. Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. Oleh karena itu, kita harus hemat menempatakan kalimat topik. Satu paragraf hanya mengandung sebuah kalimat topik. Seperti pada contoh paragraf yang pertama, topiknya hanya satu yaitupemanasan global.
Teknik Pengembangan Paragraf
Secara garis besar, ada dua macam teknik pengembangan paragraf , yaitu:
  1. Dengan menggunakan ilustrasi
apa yang dikatakan kalimat topik itu dilukiskan dan digambarkandengan kalimat-kalimat penjelas sehingga di depan pembaca tergambar dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis.
  1. Dengan analisis
Apa yang dinyatakan kalimat topik sianalisis secara logis sehingga pernyataan tadi merupakan sesuatu yang meyakinkan.
Kedua teknik di atas dapat diperinci menjadi beberapa cara yang lebih praktis, di antaranya;
  1. Dengan memberikan contoh/fakta
Perhatikan paragraf berikut!
Banyak desa yang saat ini sedang berkembang, seperti Desa Ciselang. Menjelang tahun 2010 fasilitas di desa ini dapat dikatakan cukup memadai bila dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Segala kebutuhan yang sulit didapat menjadi mudah dan perkembangan ini cukup signifikan pada desa-desa lain.Banyaknya pengusaha yang berinvestasi pada sektor rumah hunian adalah salah satu faktor dari berkembangnya fasilitas di desa ini.
  1. Dengan memberikan alasan-alasan
Dalam cara ini, apa yang dinyatakan oleh kalimat topik dianalisis berdasarkan logika, dibuktikan dengan uraian-uraian yang logis dengan menjelaskan sebab-sebab mengapa demikian.
Perhatikan paragraf berikut!
Sarapan dipagi hari sangat pentinguntuk kita semua. Selain menambah energi, sarapan juga membantu kita dalam berpikir. Jika perut kita kosong, maka konsentrasi akan terganggu. Karena tidak sarapan, berarti kita telah menyia-nyiakan waktu dan hal-hal penting lainnya. 
Dengan bercerita
Biasanya, pengarang mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang sedang atau sudah berlalu apabila ia mengembangkan paragraf dengan cara ini. Dengan paragraf itu, pengarang berusaha membuat lukisannya itu hidup kembali.
Perhatikan paragraf berikut!
Saat itu ia sedang mengobrol dengan temannya di lantai 3 gedung 5. Ia merasakan goyangan yang cukup membuatnya panik. Tapi ia bertanya apakah memang ia sedang sakit kepala atau memang gempa, maka ia berdiam diri sejenak dan tiba-tiba ia segera masuk ke dalam ruang laboratorium dan berteriak kepada orang-orang yang sedang berada dalam laboratorium bahwa sedang terjadi gempa. Semua orang yang berada di dalam laboratorium panik dan segera melarikan diri, tetapi hal tersebut segera dilarang karena tidak baik panik dalam keadaan seperti itu. Para mahasiswa yang berada di laboratorium lain terlihat sangat panik dan berlarian ke lantai bawah. Sungguh amat mengerikan dan membuat trauma mengingat gempa yang telah terjadi sebelumnya di kota Padang.




Referensi :
Budiarto, Teguh . “Cermat Berbahasa Indonesia”. Akademika Pressindo, Jakarta 2008. Hal.115-121 dan 127-130
E. Zaenal Arifin dan S.amran tasai
Edisi revisi 2008

Kamis, 13 Juni 2013

Moneter

Kebijakan moneter
  1. Konsep Kebijakan moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dibidang keuangan yang berkenaan dengan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Pemerintah selalu mengusahakan agar selalu ada keseimbangan yang danamis antara jumlah uang yang beredar dengan barang dan jasa dalam masyrakat. Dengan demikian maka kemakmuran rakyat akan meningkat.
Kebijakan meoneter tidak berdiri sendiri tetapi berbarengan dengan kebijakan fiskal, kebijaksanaan keuangan internasional dan kebijaksanaan pemerintah lainnya
Adapun tujuan kebijaksanaan kebijakan moneter secara umum adalah
  1. Untuk menyesuaikan jumlah uang yang beredar di dalam masyarakat
  2. Untuk mengarahkan penggunaan uang dan kredit sedemikian rupa, sehingga nilai uang negara yang bersangkutan dapat dipertahankan kestabilannya
  3. Mendorong produsen untuk meningkatkan produksi, apabila denga mudah mendapatkan kredit denga bunga yang rendah
  4. Paling sedikat akan dapat mempertahankan tingkat pengangguran yang telah ada dan selanjutnya berusaha agar meningkatkan tingkat employment tertentu
  5. Mengusahakan agar kebijaksanaan moneter dapat dilaksanakan tanpa memberatkan beban keuangan negara dan masyarakat
Untuk mencapai tujuan tersebut maka cara yang dapat dilakukan adalah:
  1. Menetapkan cash ratio, yaitu menetapakan perbandingan antara persentas uang di bank yang harus dijadikan cadangan dan boleh dioperasikan
  2. Kebijaksanaan pasar terbuka, kebijakan ini berkaitan penjualan surat-surat berharga dari bank sentral . apabila jumlah uang yang beredar dalam masyrakat dirasa terlalu banyak, maka pemerintah akan menaikkannya kembali melalui penjualan surat-surak berharga yang dilakukan oleh bank sentral dan sebaliknya jika jumlah uang yang beredar dalam masyarakat terlalu sedikit, maka untuk menambah jumlah uang yang beredar tersebut bank sentral akan membeli surat-surat berharga dari masyrakat dengan harga yang lebih tinggi
  3. Kebijakan suku bunga, untuk menambah atau mengurangi uang yang berdar dalam masyarakat, maka suku bunga kredit dapat memainkan peranannya, maka untuk menyedot persentase suku bunga kresit lebih tinggi dengan demikian peminta kredit akan lebih kurang
  4. Kebijakan suku bunga deposito, apabila jumlah uang yang beredardalam masyarakat berlebihan, maka untk mencegah jangan sampai semakin banyak uang yangberedar, bank menaikkan persentase suku bunga depositonya.dengan demikian makaorang akan banyak mendepositokan uangnya di bank
Selanjutnya untuk menjaga stabilitas jumlah uang yangberedar ini, pemerintah melaui kebijakan bank sentral dapat melakukan kebijakan, yaitu:
    • Kebijakan uang ketat
    • Kebijakan uang longgar
Berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatur jumlah uang yangberedar maka ada beberapa keadaan yang harus dicermati yaitu:
  • Inflasi, yaitu suat keadaan dimana nilai uang menurun secar terbuka, akibatnya harga barang-barang pada umumnya naik
  • Deflasi, yaitu kenaikan nilai uang secara terbuka dan harga barang0barang menurun
Terjadinya inflasi dan devlasi ini dapat disebabkan oleh:
  1. penyebab dari laur negeri, jika ekspor lebih bessar dari pada impornya tanpa diimbangi bertambahnya barang/ jasa yang sepadan, akan terjadi inflasi. Dan begitu juga Sebaliknya
  2. penyebab dari dalam negeri, (kebijakan fiskal), apabila realisasi kebijakan anggaran menunjukkan pengeluaran pemerintah itu lebih besar dari pad penerimaannya maka akan menjadi timbulnya inflasi. Tetapi jika belanja pemerintah lebih kecil dari penerimaannya maka akan terjadi deflasi
  3. penybab dari dalam negeri (swasta), sektor swasta dalam halini terutam masalah tabungan dan investasi dan konsumsi. Jika pendapatan masyarakat lebih banyak dipergunakan untuk membeli barang dan jasa dari pada ditabung maka akan mengarah kepada inflasi. Dan jika pendapatan masyarakat lebih banyak diinvestasikan dari pada ditabung serta jika masyarakat banyak mengkonsumsikan pendapatannyanaka akan banyak mengarah kepada inflasi
  1. perkembangan kebijakan moneter
untuk lebih memperjelas mengenai kebijakan moneterberikut ini dijelaskan praktek kebijakan moneter diindonesia.
Perkembangan kebijakan moneter perbankkan diindonesia sejak orde barupada dararnya dapat dibagida;am tiga periode yaitu:
  1. periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi,
pada periode ini kebijaka ndimaksudkan untuk mengatasi perekonomia pada saat itu sangat memperihatinkan, yaitu tingginya inflasi yang mencapai tiga digit (650%-750%)
sehubngan dengan itu mak sejak tahun 1966 pemerintah melakukan program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomianata lain usaha yang berkaitan dengan hal-hal berikut
    • pengendalian laju inflasi ketingka yang lebih aman
    • peningkatan kegiatan ekspor
    • pencukupan sandang
kebijakan ini ditempuh pertama malalui kebijaka APBN yang berimabang sehingga akan diharapakan menghapuskan sumber utama inflasi, dan kedua melalui kebijakan perkeriditan. disamping itu dalam rangka meningkatkan mobilitas dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan pembangunan sekaligus untuk mengurangi laju pertumbuhanuang beredar, maka dnegan inpres no 28 tahun 1968 ditetapka ketentua sebagai berikut:
  • menawarkan tingkat suku bunga depositi yang tinggi
  • bebas pengusutan asal usul ytang di depositokan
  • jaminan pengemablian atas simpanan oleh bank indonesia
  • opengetatan rahasia bank terhadpaa pemilik deposito
  1. peeriode daaat ekonomi ditunjang pendapatan sektor minyak
Dalam upaya meningkatnkan pengerahan dana masyarakat pemerintah menyediakan kredit likuiditas bank indonesia yang mempoerbesar kemampuan perbankan dal mepnyaluran kredit yang akhirnya meningkatkan jumlah uang yang berdar
Kebijaka moneter yangtempuh pemerintah saat itu antara lain
  • penetapan pagu kredit , dengan cara mentapkan bats pertambahan kredit dan aktifa lainnya
  • menaikkan suku bungakredit bank bank-bank pemerintah
  • menaikkan persentase cadangan likuiditas wajib
  1. periode deregu;lasi kebijakan moneter dan perbankkan
Pada tahun 1982 ekonomi indonesia mengalami resesi sebagai dampak dari resesi dunia. Hal ini nampak pada penurunan produk domestik bruto dan neraca pambayaran. Untuk mengatsi situasi buruk ini, pemerintah mengambil langkah-langkah kebijakan termasuk kebijakan moneter
Selain iitu pemerintah berturut-turut mengeluarkan pokok kebijaksanaan yang pada dasarnya merupaka deregulasi yaitu:
  • paket kebijaksanaan 1 juni 1982
    • penghapus pagu kredit dan aktifa lainnya
    • mengurangi kredit likuiditas bank indonesi kecuali untuk sektor yang di prioritaskan
    • membari kebebasan bagi bank untuk menetapkan suku bunga deposito maupun kredit kecuali sektor yandi prioritaskan
  • paket kebijaksanaaan 27 okt 1988
    • pengerahan dana masyarakat
    • ekspor non migas
    • efisiensi lembaga lembagakeuangan dan perbankan
    • kemampuan pengendalian palaksanaan moneter
    • iklim pengembangan pasar modal
  • paket kebijaksanaan 20 des 1988
    • penyelenggaraan bursa efek oleh swasta
    • pembukaan buras efek di beberapa kota
    • ketentua perdagangan di bursa efek di jakarta
    • penyediaan alternatif sumber pembiayaan pembangunan untuk mendukung kegiatan produktif
    • bank dan LKBB dapat melakukan kegiatan perdagangan surat berharga, usah kartu kredit, usah anjak piutrang dan usaha pembiayaan konsumen sebagai bagian dari kegiatan usahanya
    • membuka kesempatan mendirikan perusahaan asuransi kerugian, jiwa, reasuransi, broker asuransi dll.
  • Paket kebijaksanaan 25 maret 1989
    • Peleburan usah atau marger dan penggabungan usah bagi bank umum swasta nasional, BPR
    • Penyempurnaan ketentuan tentang pendirian dan usaha BPR
    • BPR dapt meningkatnakan usahanya menjadi bank umum baik dengan cara melakukan persyaratan, marger ataupun konsolidasi dengan bank umum yang telah ada
    • Lembaga dana atau kredit pedesaan diberikan status yangsama dengan BPR
    • Pemilik modal bank campuran
    • Pengertian kredit ekspor
    • Pengerti modal sendiri bagi bank dan LKBB
    • batas maksimum pemberian kredit p[ada debitur dan debitur grup serta pengurus pemegang saham dan keluarganya
    • penggunaan tenaga kerja profesional warga negera asing
    • penyempurnaan tata cara perhitunga likuiditas wajib minimum bank
    • ketentuan posisi defisa netto
    • pengawasan dan pembinaan LKBB kredit investasi dan penyertaan modal
  • paket kebijaksanaa 29 januari 1990
    • kerdit usah tani
    • kredit kepad koperasi
    • kredit pengadaan pangan dan gula
    • kredit Investasi
    • kredit umum dan usaha kecil
  • paket kebijaksanaan 29 mei 1993
    • capital adequaci ratio (kewajiban penyaediaan modal minimum)
    • batas maksimum pemberian kredit
    • kredit usah kecil
    • pembentukan cadangan piutang
    • penilaian tingkat kesehatan bank

Kamis, 02 Mei 2013

INFLASI


Dalam ilmu ekonomiinflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Penyebab

Inflasi tarikan permintaan (Inggdemand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (Inggcost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal, yaitu :
kenaikan harga, misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebutinflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
  4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun

Mengukur inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
  • Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  • Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
  • Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  • Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  • Indeks harga barang-barang modal
  • Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.


Dampak
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi danproduksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.